Sifat Yang Sulit Untuk Dirubah

Byoah – Perpecahan dalam sebuah keluarga memang sering terjadi, tidak hanya istri dan suami saja, dengan kakak atau adik pun bisa terjadi. Apalagi patokan/pemersatu keluaraga sudah hilang, dan semua hanya menuruti ego masing-masing hingga menimbulkan perpecahan.

Awal mula

Namaku Agil, saat aku kelas X SMA ibuku sakit kanker payudara. Saat itu ibuku harus bolak balik kerumah sakit setiap 3 minggu sekali untuk melakukan kemo hingga 6x. Aku sangat sayang dengan ibuku, karena hanya ibuku yang membuat suasana rumah menjadi damai.

Waktu itu aku sedang sekolah, ibu kemo yang ke6 diantar oleh ayahku, waktu itu aku sedang ujian disekolah, kakakku perempuan juga sedang ujian. Kakakku kelas XII tetapi beda sekolah dengaanku, kalau kakak laki-lakiku sedang bekerja di Surabaya.

Saat bel pulang sekolah berbunyi dan ujian selesai, teman-teman mengajak ke perpustakaan dulu untuk meminjam buku. Di perpustakaan Aku bertemu dengan pacarku, nama pacarku Salma.
Kami pacarana sudah berjalan 5bulan, saat ketemu itu dia aku tawarin untuk pulang bareng. Walaupun rumah kita tidak searah aku sering mengantar salma pulang.

Dia mau pulang bareng dan aku meminta Salma menunggu didepan gerbang, karena dalam area sekolah dilarang menaiki sepeda motor bolehnya di tuntun, kasihan Salma jika dia ikut mendorong motorku. Maka dari itu aku menyuruhnya menunggu di depan.

Sesampai aku di depan gerbang Salma naik dan aku antar dia pulang. Sampai dirumah Salma aku dipersilahkan masuk oleh ibunya Salma. Hpku tiba-tiba bergetar lama tandanya ada panggilan masuk, ternyata panggilan dari kakak perempuanku.

Kabut kelam di rumah

Kakakku meminta aku segera pulang sambil menangis tersedu-sedu. Perasaanku pun menjadi tidak enak dan aku segera berpamitan dengan ibunya Salma.

Setengah jam perjalanan dari rumah Salma ke rumahku, saat di pertigaan dekat rumahku aku melihat ada banyak orang dirumahku dan ada bendera kuning terpasang di pagar rumahku. Seketika aku langsung loncat dari motor dan masuk kedalam rumah.

Aku menangis dipeluk kakak perempuanku, ayahku juga ikut memelukku dan memberitahu aku jika ibu sudah tidak ada di dunia ini, sudah tenang dan sudah tidak merasakan sakit lagi.

Aku langsung mbrontak dari pelukan kakakku dan menangis di sebelah jenazah ibuku. Karena aku sudah datang semua segera mempersiapkan pemandian jenazah. Aku diminta mengganti pakaian terlebih dahulu dan ikut memandikan ibuku.

Saat memandikan ibuku aku dilarang menangis tetapi tetap tidak bisa berhenti menangis. Saat selesai memandikan aku juga diminta membantu mengkafani ibuku.

Selesai itu aku mandi besar dan mengganti pakaian untuk menyolatkan jenazah. Selesai sholat jenazah kakak laki-lakiku datang dari Surabaya, dan saat itu jenazah ibuku mulai di berangkatkan ke pemakaman.

Pemakaman

Di liang lahat aku membuka tali dan menata posisi ibuku, aku melihat wajah ibuku untuk yang terakhir kalinya. Setelah selesai pemakaman aku pulang kerumah, sebenarnya aku belum mau pulang tetapi kakak laki-lakiku menyuruh aku kuat dan pulang.

Saat sampai dirumah banyak teman sekolahku yang datang, bukan hanya teman sekelas tetapi juga teman ekstrakulrikuler pun banyak yang datang.

Hanya 1 orang yang sangat membuat aku kecewa yaitu Salma tidak datang disaat ibuku meninggal. Sedangkan temannya Salma yang rumahnya bersebelahan dengannya datang dengan ibunya.
Malamnya setelah tahlillan aku baru melihat ponsel. Banyak whatsapp masuk dari teman-teman dan kerabat untuk menguatkanku agar aku tetap tegar tidak bersedih terus menerus.

Aku membaca pesan masuk dari Salma yang meminta maaf denganku karena tidak hadir dengan alasan setelah aku pulang diajak kerumah neneknya dan tidak mengetahui jika ibuku meninggal.
Aku pun menjawab pesan dia singkat dengan kata “Gpp.” Dalam fikiran yang kacau dan sedih aku pun langsung menelephone Salma dan memutuskan dia dimalam itu juga.

Memang jahat dan tidak wajar jika laki-laki yang memutuskan hubungan terlebih dahulu. Besoknya saat disekolah aku berpapasan dengan Salma dan temannya, aku pun pura-pura tidak melihatnya.

Dia mengirim pesan whatsapp ke aku mengajak ketemu untuk mengobrol. Seketika langsung aku blokir whatsappnya dan aku hapus nomornya dari kontakku.
Setelah 7 hari meninggalnya ibuku, kakak laki-lakiku kembali ke Surabaya untuk bekerja. Biasanya saat ibu masih ada satu keluarga makan selalu bersama, ibu nonton tv kita ikut nonton tv sambil ngemil-ngemil.

Setelah ibu tidak ada ayah selalu jaga kios di pasar, sedangkan kakak main hp dikamar bahkan makan pun dikamar. Aku yang setiap hari biasa ditemani ibu untuk makan dan belajar kini harus sendiri.

Kerinduan

Aku sangat merindukan ibuku, kepergianmu mengubah segalanya. 2 tahun berlalu tanpa ibu, saat wisuda di SMA banyak yang berdatangan dengan kedua orang tuanya dan foto bersama.
Wisudaku hanya dihadiri oleh ayahku saja, karena sifat ayahku yang cuek seperti aku jadi foto wisuda pun serasa foto KTP kaku tanpa ekspresi.

Selesai wisuda kakakku yang laki-laki menikah dan tinggal di rumah mertuanya di Surabaya. Aku melanjutkan kuliah si Solo, disana aku kos sekamar dengan teman baikku yaitu Wildan.
Aku iri melihat kedua orangtua Wildan yang sering mengunjungi Wildan ke Solo, dan sering kali membawakan oleh-oleh serta bakso yang mereka jual di Blitar untuk kita makan di kos.

Andai ibuku masih ada pasti keluargaku masih utuh dan tidak saling menjauh seperti ini. Selama aku kuliah ayahku belum pernah mengunjunguku di kos, kalau orangtua Wildan sering hamper 1 bulan 1x berkunjung.

Saat mereka berkunjung aku hanya melihat dari kejauhan, melihat Wildan dicium oleh kedua orangtuanya membuat aku semakin sedih dan iri.
Saat kakak perempuanku menikah, aku pulang ke Blitar. Disitu aku fikir semua sudah memiliki keluarga masing-masing, sedangkan aku pasti tambah kesepian. Setelah selesai acara pernikahan kakak perempuanku aku kembali ke Solo.

Banyak teman yang keluarganya bercerai tetapi masih kompak dalam bertemu anak. Setahun kemudian ayahku juga menikah, dan saat aku mendengar jika ayahku akan menikah aku langsung pulang keBlitar.

Sampai di Blitar aku langsung menuju makam ibuku, aku menangis di makam ibuku. Semua sudah berkeluarga dan aku hanya seorang diri, keluarga dari ibuku sudah jarang berkunjung saat lebaran semenjak ibuku meninggal.

Sedangkan keluarga ayahku hanya datang saat butuh bantuan. Pernikahan ayahku hanya bertahan 6 bulan lalu mereka memilih bercerai, aku tidak tau apa sebabnya mereka bercerai.

Gadis pujaan

Liburan aku pulang ke Blitar, aku lebih sering ngopi sampai tengah malam di pinggir sungai dengan hembusan angin yang membuat fikiranku menjadi sedikit lebih tenang dan damai.
Aku sering keluar dengan temanku waktu masih MTS dulu, temanku itu perempuan dan dia juga sering mengajak teman kerjanya. Teman kerjanya itu lebih tua dari kita, oranganya cantik mudah bergaul juga dengan orang baru dikenal.

Dari pertama ngopi aku sudah suka dengan teman kerja temenku itu, tetapi dia kayaknya tidak suka dengan cowok yang umurnya dibawahnya. Semenjak kenal teman kerja temanku itu aku sering pulang ke blitar.
Sering ngajak mereka ngopi dan sering juga saat libur kita jalan-jalan, nonton konser, jalan pagi bersama, pokoknya sering keluar ber 3. Kita juga membuat grub di whatsapp untuk berbincang-bincang. Bahkan aku sering chat pribadi dengan teman kerja temanku itu.

Waktu itu Wildan juga pulang ke Blitar, mau ikut nongkrong juga. Aku pun ajak Wildan dan mengenalkan ke mereka. Saling ngobrol seru tidak terasa sampai tengah malam. Pulang dari nongkrong itu Wildan minta dimasukkan digrub, jadi aku masukkan dia di grub.

Ternyata dia suka juga dengan teman kerja temanku itu. waktu nongkrong ber 3 aja tanpa Wildan aku tidak sengaja melihat notifikasi chat masuk dari Wildan di Hp teman kerja temenku itu.
Aku kesal karena menurutku Wildan sama aku lebih mendingan aku, Cuma kelebihan dia itu lucu orangnya bisa bikin orang ngakak, sedangkan aku cuek. Mulai saat itu aku sedkit renggang dengan Wildan, ya sedikit cuek gitu.

Mungkin dia merasa kalau aku menjauh dengannya, dan dia dari awal juga sudah aku kasih tau kalau aku suka sama kakak itu teman kerja temanku. Dia pun tidak pernah lagi ikut-ikut nongkrong maupun jalan-jalan.
Mungkin karena sifatku yang terlalu cuek ini yang membuat aku kurang memiliki teman. Karena semenjak ibuku meninggal suasana dirumah menjadi panas, tidak ada patokan untuk membangun suasana dingin dirumah.
Dulu sebelum ibu meninggal aku adalah anak yang ceria dan sangat memiliki banyak teman, tidak mudah tersinggung dan tidak mudah marah. Sekarang aku sangat mudah membenci orang, bahkan dengan keluargaku sendri jarang mengobrol.

Mulai sekarang aku harus mengubah sifat cuek dan pemarahku ini. Agar aku menjadi pribadi yang lebih baik dan keluargaku menjadi damai kembali.

You May Also Like

About the Author: administrator

Leave a Reply

Your email address will not be published.